Selama ini di mana-mana kita menyaksikan iklan yang memprogandakan isinya yang “kurang mengandung tir dan nikotin”. Apakah nikotin itu sebenarnya? Mengapa orang begitu cemas mengenai kadar zat ini di dalam rokok atau cerutu?
Orang-orang yang mengisap rokok atau cerutu itu memang betul-betul merasa nikmat untuk dihirupnya. Sejumlah kecil dari akibat merokok itu memang mendatangkan pengaruh yang menenangkan pikiran dan sumsum saraf seseorang. Ia juga bisa “menyembunyikan” sensasi keletihan yang berlangsung, sehingga seseorang boleh merasa bahwa dirinya itu tidaklah begitu lelah. Ia bahkan bisa merangsang bayangan pikiran seseorang ke suatu taraf tertentu, sehingga sebagian orang bisa bekerja lebih baik apabila mereka merokok.
Orang-orang yang mengisap rokok atau cerutu itu memang betul-betul merasa nikmat untuk dihirupnya. Sejumlah kecil dari akibat merokok itu memang mendatangkan pengaruh yang menenangkan pikiran dan sumsum saraf seseorang. Ia juga bisa “menyembunyikan” sensasi keletihan yang berlangsung, sehingga seseorang boleh merasa bahwa dirinya itu tidaklah begitu lelah. Ia bahkan bisa merangsang bayangan pikiran seseorang ke suatu taraf tertentu, sehingga sebagian orang bisa bekerja lebih baik apabila mereka merokok.
Salah satu bahan utama yang terdapat di dalam tembakau itu adalah nikotin. Yang murni, bila dikeluarkan dari tembakau itu, akan menjadi racun. Tetapi tentu saja pada saat seseorang mengisap rokok itu, ia tidak menghirup nikotin murni ke dalam tubuhnya.
Marilah kita telaah apa sebenarnya yang terjadi pada waktu berlangsung proses mengisap rokok itu. Merokok itu adalah suatu proses “distilasi kering” atau “penyulingan secara kering”. Ini berarti bahwa bahan yang kering itu dialihkan menjadi uap. Bila sebatang rokok telah dipasang, pada ujungnya yang sedang menyala terdapat panas yang maksimal yang melakukan proses pembakaran. Secara kimiawi panas ini menghancurkan 25% dari nikotin itu.
Di belakang bagian yang menyala itu maka tembakau itu mengalami pemanasan dengan suhu yang sedang. Di sini, gas yang mengandung nikotin akan keluar dari irisan daun tembakau itu dan 30% dari nikotin itu lenyap menhilang di udara. Bagian selebihnya dari rokok itu mengandung partikel tembakau yang berada dalam keadaan dingin. Apabila nikotin itu melewati bagian ini, maka nikotin itu terhenti di sini. Sebagai akibatnya, hanya kurang lebih 15% dari seluruh jumlah nikotin itu berhasil masuk ke dalam mulut. Jenis rokok yang mengandung filter atau saringan adalah suatu usaha manusia untuk membendung sebanyak mungkin zat nikotin ini agar jangan sampai masuk ke mulut.
Semakin pendek jarak antara ”nyala” rokok di mana proses distilasi itu berlangsung ke dalam mulut, maka semakin banyak nikotin itu beroleh kesempatan masuk ke dalam mulut. Itulah sebabnya mengapa rokok dan cerutu yang pendek dan besar ukuran batangnya biasanya tidaklah “selembut” yang batangnya berukuran kecil dan panjang. Juga besar sekali kemungkinan bahwa cerutu atau rokok yang diisap orang sampai ke ujungnya yang paling pendek, bisa membuka kemungkinan masuknya nikotin lebih banyak ke dalam mulut.
Apabila seseorang memasang kembali cerutu atau rokok yang nyalanya telah padam, maka ia tidak lagi akan menyala sebaik semula. Kemunduran ini pun bisa menyebabkan lebih banyak nikotin yang tertiup masuk mulut.
Walaupun demikian, kurang lebih 15% dari jumlah nikotin itu bisa memasuki mulut dan hanya sekelumit saja dari bagian ini memasuki darah melalui selaput lendir yang terdapat dalam wilayah rongga mulut. Tetapi apabila asap rokok atau cerutu itu dihirup melalui hidung, maka jumlah nikotin itu akan berlipat ganda, sehingga apabila dihirup lagi ke dalam paru-paru, maka berarti jumlahnya menjadi empat kali lebih banyak dari jumlah nikotin yang memasuki tubuh seseorang.
Sumber : Sosialisasi dampak rokok bagi kesehatan oleh Dinkes Banjarnegara
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Share your Opinion here...